Arsip Berita

- Selamat Hari Raya Nyepi Tahun Baru Caka 1932
- Rapat Koordinasi Dinas Perkebunan Seluruh Bali
- Pemantapan Penyelenggaraan E Gov
- Pembinan pemantapan produksi pada daerah sentra kopi robusta di Kecamatan Pupuan
- Rapat Penyusunan RKA – KL PPHP Tahun 2010 Di Hotel Panghegar, Bandung 4 – 6 Juni 2009
- Perkembangan Harga Rata-rata Komoditas Perkebunan Minggu I Mei 2009
- Gerakan Peningkatan Produksi Jambu Mete
- Pengumuman Lelang
- Pertemuan penyusunan Standar Biaya Khusus di Surabaya 18 - 20 Maret 2009
- Rumusan sementara Musrenbangtan 2009 Sub Sektor Perkebunan
27-10-2009
admin
Pembinaan dan pemantapan peningkatan produksi pada daerah sentra kopi robusta di Kecamatan Pupuan bertujuan untuk memperbaiki kandungan, bahan organik, kesuburan dan keberadaan mikrooganisme tanah, serta meningkatkan fungsi lahan perbukitan, Vegetasi diwilayah Pupuan termasuk komoditi tanaman tahunan perkebunan sebagai sumber tangkapan air hujan, sebagai sumber pensupply air bagi wilayah disekitarnya, baik dalam bentuk sumber mata air maupun aliran air pemukaan . Adanya Ketersediaan air , tanah yang subur dengan mikroorganisme terjaga dan berfungsi baik akan meningkatkan daya tumbuh tanaman serta mampu berkembang dan berproduksi dengan mutu baik.
Pengurangan penggunaan sarana produksi berbahan kimia seperti pupuk dan pestisida adalah suatu keniscayaan yang harus dapat dilaksanakan kedepan agar tetap terjaga dan berlanjutnya usaha budiaya pertanian yang produktif sebagai penopang kehidupan penduduk dengan pemenuhan kebutuhan hidup yang memadai baik dan sehat dari dalam negeri. Hal ini penting mengingat saat ini ada 64% penduduk negeri ini bergantung pada sektor pertanian. Menghadapi perkembangan pasar bebas penuh persaingan dan juga seiring dengan peningkatan taraf hidup sebagian orang, menghendaki adanya produksi yang semakin berkualitas, dari segi fisik, cita rasa maupun jaminan kesehatanya, maka mewajibkan para petani konvensional merubah pola pikir dan kinerjanya mengarah pada penterapan tehnologi baru dengan manajemen agribisnis yang lebih baik terhadap isu lingkungan dalam pengelolaan usaha taninya, sehingga dapat meningkatkan daya saing dan nilai tawar melalui perbaikan mutu produksi dan produktifitas.
Merubah kebiasaan petani dari pengguna sarana produksi berbasis kimia seperti pupuk anorganik dan pestisida ke nonkimia seperti pupuk organik dan biopestisida secara frontal tentu tidak mudah dan saat ini masih sulit diterima petani, mengingat kemungkinan akan terjadi stagnasi produksi bersifat sementara yang dapat menurunkan pendapatan mereka disamping belum adanya jaminan pasti produksi berkualitas nonkimia yang mereka hasilkan dapat memberikan insentif untuk mengimbangi kehilangan pendapatan penurunan produksi yang dirasakan, Sampai saat ini belum terdapat pasar memadai terkait dengan komoditi organik. Berkaitan dengan hal tersebut diperlukan langkah komprehensif yang bijak dengan mengajak petani secara bertahap dalam mengurangi penggunaan sarana produksi berbahan kimia tersebut. Melalui pendekatan penyuluhan, pendidikan dan latihan serta memberikan contoh berupa plot areal yang bisa dipakai acuan oleh petani tentang manfaat penggunaan sarana produksi nonkimia, Untuk hal itu diperlukan adanya subsidi yang bersifat jangka pendek dan menengah dalam menangani masalah ini, sehingga beban petani untuk memenuhi kebutuhan hidup dan pembiayaan usaha tani dapat teratasi.
Sehubungan dengan hal tersebut diatas kegiatan pembinaan pemantapan produksi pada daerah sentra kopi arabika,kopi robusta,kakao dan jambu mete Dinas Perkebunan Provinsi Bali tahun 2009 melaksanakan pembinaan dan pemantapan pemeliharaan pertanaman yang baik (Good Agriculture Practices “GAP”) pada areal kebun kopi robusta seluas 10 hektar dengan melibatkan 20 kepala keluarga petani di Subak Abian Teja Phala Amerta Dusun Teja Bukit,Desa Bantiran,Kecamatan Pupuan.Kabupaten Tabanan dengan kegiatan pada on farm meliputi perbaikan teras/rorak,pemangkasan tanaman kopi dan pelindung, pembersihan gulma /sanitasi kebun,pengendalian hama penyakit,pemupukan serta pembinaan panen dan paska panen yang diarahkan pada olah basah.Kegiatan ini dibantu alat dan sarana produksi berupa gunting pangkas 20 buah,pupuk organic kotoran sapi 185 m3 dan agensia hayati (Beauveria bassiana) sebanyak 22 kg untuk pengendalian penggerek buah kopi (PBKo).
Mengawali kegiatan ini dilaksanakan beberapa kali pertemuan mulai dari apresiasi bantuan kepada petani,persiapan dan pelaksanaan kegiatan serta penyusunan jadwal pelaksanaan di lapangan yang disesuaikan dengan iklim situasi dan kondisi setempat.Sebagian besar kegiatan ini umumnya sudah biasa dilakukan petani di lapangan,dan pembinaan dimaksudkan untuk memantapkan dan meningkatkan kebersamaan di antara mereka.Apresiasi kegiatan dilakukan pada bulan April 2009,dilanjutkan pembinan aspek teknis pemeliharaan kebun pada bulan Mei dan Juni meliputi pemangkasan,pembersihan gulma dan sanitasi kebun serta pengendalian hama penyakit tanaman. Pembinaan panen dan paska panen dilakukan pada Bulan Juli 2009 dengan penekanan pada aspek panen petik merah dan pengolahan produksi melalui olah basah dimana telah dibantu fasilitas pengolahan oleh pemerintah baik pusat maupun daerah.Kegiatan perbaikan teras atau rorak dilakukan pada Bulan Agustus dimana realisasinya dilaksanakan setelah selesai panen September-Oktoberdilanjutkan dengan pemupukan dilaksanakan pada Bulan Oktober dengan mempergunakan pupuk organic kotoran sapi.Kegiatan ini diharapkan dapat mendorong petani agar lebih terobsesi untuk memperhatikan pemeliharaan kebunnya dengan baik dan benar sehingga produktifitas dan kualitas produksi lebih meningkat dan berkelanjutan dengan lingkungan yang tetap terjaga dan lestari.
Mensejahterakan kehidupan masyarakat secara umum dan petani pada khususnya merupakan tanggung jawab kita bersama. Melalui fasilitas yang diberikan oleh Pemerintah dan pihak lain yang terkait sebagai stimulan untuk dapat mendorong dan meningkatkan akivitas petani dalam pemeliharaan tanaman dengan mengadopsi teknologi baru yang baik dan benar dalam budidaya pertanaman sehingga dapat menghasilkan kuantitas dan kualitas produksi yang memiliki daya saing serta nilai tawar tinggi yang akhirnya dapat meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan petani itu sendiri serta keluarga. Kesejahteraan petani yang semakin meningkat diharapkan menarik minat para pencari kerja untuk memanfaatkan lapangan kerja di sektor pertanian, dengan demikian akan terjadi arus balik kehidupan kembali ke desa. Ini diharapkan dapat mengatasi permasalahan perkotaan dengan kerawanan sosialnya sebagai dampak dari pengangguran yang semakin meningkat terutama kaum muda yang produktif.
Ir. I Made Sudarya,M.Si
Ka. UML Pupuan





