MENGENAL EKOSISTEM DAN TEKNIK PHT HAMA PBKo

oleh Nengah Sukanaya, SP
(PPOT Disbun Bali)
Rata-rata produktivitas kopi di Bali apabila dihitung berdasarkan luas tanaman kopi menghasilkan (TM) adalahsekitar 635,47 kg/ha/th. ditinjau dari segi produktivitas tersebut produksi kopi di Bali secara umum tingkat produktivitasnya masih jauh dari potensi produksi yang dapat mencapai 2000-3000 kg/ha/th. Rendahnya produktivitas tersebut disebabkan berbagai faktor seperti penggunaan bahan tanam yang masih asalan, pemeliharaan yang kurang intensif dan adanya gangguan organisme pengganggu tumbuhan (OPT).
Salah satu OPT yang menyerang tanaman kopi dan yang paling sangat merugikan adalah penggerek buah kopi PBKo (Hypothenemus hampei).Pengamatan di lapangan terhadap agroekosistem tanaman kopi diperoleh bahwa intensitas serangan hama PBKo pada tanaman kopi yang ditumpangsarikan dengan berbagai jenis tanaman lain cenderung lebih rendahdibanding dengan tanaman kopi yang ditanam secara monokultur atau tanpa penaung. Diketahui pula bahwa tipe distribusi serangga PBKo adalah mengikuti tipe distrbusi mengelompok (aggregated clumped,contagius), sehingga untuk pengambilan contoh yang sesuai dalam rangka pengamatan hama PBKo menggunakan metoda sistematik (teratur).
Hama PBKo menyerang buah kopi pada saat buah berumur tiga bulan atau lebih yaitu pada saat biji kopi dalam buah mulai mengeras. Hasil pengamatan menunjukan hubungan antara tingkat serangan hama PBKo pada buah dan kehilangan hasil biji kopi pasar, bahwa pada tingkat serangan 10 prosen, kehilangan hasil biji kopi telah berbeda nyata dengan tingkat serangan 0 prose. Dengan demikian bisa ditetapkan bahwa tingkat serangan 10 prosen merupakan nilai ambang kendali hama PBKo.
Berbagai teknik PHT yang dapat diterapkan dalam pengendalian hama PBKo yang merupakan komponen PHT adalah dengan cara petik bubuk, racutan lelesan danpemanfaatan agensia hayati. Penggunaan jamur Beauveria bassiana dengan media jagung sebanyak 2 kg/ha/th mampu menekan tingkat serangan hama PBKo sebesar 70-80% dan populasi hama 22-60%. Sementara pemanfaatan parasitoid Cs sampai saat ini masi sebatas dalam kajian di lapangan dan teknik perbanyakannya penyebaran. masal pada perkebunan kopi secara luas belum pernah dilaksanakan.





